Rabu, 08 Agustus 2012

Sekolah Jurnalistik dan Kecerdasan Masyarakat



Sriwijaya Post - Rabu, 20 Januari 2010

PEMERINTAH, masyarakat dan insan pers di era teknologi komunikasi dan informasi sudah patut berpikir cerdas dan tepat untuk berbuat  positif dan konstruktuif, guna mendorong kehidupan pers Indonesia yang maju. Kewajiban mendidik dan mencerdaskan wartawan (jurnalis) Indonesia makin mendesak dalam rencang-rancang bangun pers Indonesia masa datang. Karena ironis jika salah satu tujuan pokok pers yakni mencerdaskan kehidupan masyarakat, tetapi wartawannya kurang  cerdas atau kurang jujur. Karena itu perlu segera mencerdaskan dan mendorong ketrampilan wartawan dalam menggeluti profesi mulianya tersebut.

Pulitzer, tokoh wartawan dunia (Amerika) berkata pendidikan  kewartawanan bukan untuk secepat kilat melahirkan seorang menjadi wartawan. Tetapi bagaimana seorang siswa atau mahasiswa mengetahui dan memahami seluk beluk ilmu kewartawan. Pendidikan kewartawan “disaat itu” tak lebih dari memberikan ilmu dan teori teori journalism. Pulitzer berpendapat journalis must be made bukan must be born yang berbasis bakat. Maka pendidikan kewartawanan adalah upaya untuk menuju kepada pendidikan tentang kewartawanan bagi seorang wartawan, sehingga seorang wartawan  menjadi wartawan yang paripurna dalam pengabdian profesinya. Wartawan paripirna artinya seorang wartawan dalam praktek menggeluti profesinya mampu memahami dan cerdas dalam kegiatan parktisi jurnalistik. Mereka juga pandai memanfaatkan dan mendayagunakan fungsi teklogi komunikasi dalam kecepatan menyebar informasi ditengah maraknya peranan dan pengaruh multi media ditengah dinamika kehidupan manusia.

Ketrampilan, kecermatan wartawan mengolah dan menyebarkan  informasi makin menjadi syarat penting dan utama. Masyarakat  akan senang dan percaya menerima informasi yang akurat dan terpercaya adalah bagian dari proses tugas wartawan mencerdaskan kehidupan bangsa. Bukan membodohi atau menipu masyarakat. Lebih lagi tidak memberikan kenyaman kepada insan pers dan profesi  jurnalistik, jika  wartawam yamg tidak sadar membebek kepada  oknum birokrat yang tingkah lakunya melahirkan kebencian masyarakat.

Wartawan memang perlu wawasan yang luas dan berbasis etika. Wartawan  perlu menguasai teknik dan penggunaan sarana jurnalistik yang makin canggih ditengah kegiatan dengan    ketelitian mengolah informasi. Pandangan di atas lebih khusus ditujukan kepada mereka yang berminat atau calon yang ingin jadi  wartawan. Wartawan (cetak dan eletronik) Indonesia jumlahnya masih sedikit dibanding keberadaan penduduk Indonesia. Jika tidak salah hingga sekarang jumlah wartawan Indonesia baru sekitar 15-20 ribu orang. Sementara penduduk Indonesia 235 juta orang. Dengan 20 ribu wartawan yang bertugas melayani informasi bagi  kebutuhan pokok masyarakat sebanyak itu, merupakan tugas luar biasa. Bukan hal gampang meningkatkan tugas dan kinerja profesi wartawan, guna memenuhi harapan dan tuntutan masyarakat  terhadapan layanan informasi.

Pembina Masyarakat
Kebutuhan informasi sebagai salah satu “makanan pokok” masyarakat. Akibat kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, maka arus informasi makin deras menerpa masyarakat yang berlangsung 24 jam. Maka orang yang tidurnya lama, berleha-leha dan tiada peduli lingkungan, akan rugi karena tak sempat menerima informasi.

Di awal tulisan  ini disebutkan jurnalis must be made, artinya  wartawan harus diciptakan dan dibangun. Wartawan bukan berdasar  karena ada bakat atau pandai menulis. Jadi about youmalism itu  adalah basis, to be a good journalist. Maka lembaga pendidikan jurnalistik perlu diadakan dan dibangunan dengan tujuan yang jelas, guna memperkaya wawasan dan membekali ketrampilan seorang wartawan ketika dia mengunakan media yang kini makin canggih (multi media).

Wartawan harus berwawasan luas agar tulisan pemberitaan jelas,  jernih dan mengandung cakrawala yang juga luas. Bebas dari polusi ketidakjujuran yang bisa bikin skeptis masyarakat. Kebijakan   pemberitaan yang ditentukan seorang redaktur tidak semau perut  redaksi. Setiap aksi dalam masyarakat yang diolah menjadi informasi aktual, harus dijaga agar tidak gampang menurunkan nilai dan derajat masyarakat itu sendiri. Sebab wartawan menurut George Bastian, adalah pembina masyarakat.

Posisi organisasi profesi PWI atau organisasi kewartawan yang ada  di negeri ini harus berpikir dan berbuat positif bersama pemerintah. Antara lain harus tepat dan sangat strategis membangun dan mengembangkan lembaga-lembaga pendidik jurnalistik. Karena itu, gagasan dan rekomendasi PWI untuk membangun sekolah wartawan di Sumatera Selatan akan didukung masyarakat dan insan pers.

Paling tidak pendirian sekolah wartawan menjadi kebutuhan dan pencerdasan jurnalis. Perencanaan membangun sekolah wartawan di Sumatera Selatan dipercayakan kepada tokoh pers nasional dan tokoh wartawan di Sumatera Selatan. Kurikulum dan kenerja pendidik di sekolah wartawan tentu akan melibatkan sosok pendidik yang punya pengetahuan praktis dan memiliki ilmu jurnalistik. Mereka itu boleh diambil dari kalangan PWI Cabang Sumatera Selatan sendiri.

Gagasan Gubernur
Di tahun l967, penulis bersama sejumalh wartawan senior (karena  bakat) mereka jadi wartawan hebat dikala itu. Dunia kewartawan dan mass media belum sehebat dan segarang pers di era informasi   global dewasa ini. Tetapi “kakak-kakak” saya, wartawan senior  diwaktu itu mengerti dan memahami gagasan junior yang punya perspektif tentang perlunya wartawan memiliki dan menguasai ilmu jurnalistik. Maka semua mereka mendukung gagasan penulis mendirikan pendidikan kewartawanan, yang kemudian lahir dengan nama Akademi Publistik Candradimuka, Palembang (APCP).

Di tahun itu juga penulis didobrak dengan sebuah pertanyaan dari kakak senior saya: apa alasan Saudara akan membangun sekolah  wartawan? Penulis jawab “kata guru saya di Gajah Mada, menjadi wartawan tidak lagi berdasarkan bakat. Tapi seorang wartawan harus memiliki ilmu pengetahuan yang luas dan khusus pengetahuan jurnalistik dan ilmu ilmu lain.

Dunia kian berekembag maju. Fenomena peranan dan pengaruh teklogi komunikasi dan alat media komunikasi dan informasi sekian puluh tahun mendatang akan maju dan berkembang. Hal ini mau atau tidak mau harus diikuti para calon wartawan maupun wartawan yang sudah aktif. Hal itu akan membawa kemajuan luar biasa. Karena itu kita harus membekali para wartawan untuk lebih canggih dan cepat mengolah berita dan informasi yang bermutu.

Di Indonesia, sekolah atau  pendidikan tinggi kewartawan cukup banyak digagas oleh para praktisi wartawan seperti Jurusan Imu Publissstik UGM Yogya, Sekolak Tinggi ilmu Komunikasi di Sumut (Medan) didirikan  wartawan senior Medan, M Said, orang tuanya Tribuana Said. Sekolah Tinggi Komunikasi di Makassar, pendirinya  Alwi Hamu dll. Lembaga Pendidikan Jurnalistik Dr Soetomo di Jakarta, salah seorang pionirnya adalah tokoh pers nasional DH Asegaf. Wong Palembang, lahir di Lampung.

Gagasan Gubernur Sumsel Ir Alex Nurdin (pelopor pendidikan dan kesehatan gratis), dalam forum Rakernas PWI 2009 lalu di Palembang, tentang sekolah wartawan, patut kita hargai dan didukung penuh. Program tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia wartawan.

Tentu saja program tersebut akan didukung penuh oleh pemerintah dan PWI. Ini kesempatan kita untuk memberikan ilmu jurnalistik kepada wartawan, sehingga hasil karya jurnalistiknya benar-benar memberikan sumbangsih bagi kecerdasan masyarakat Indonesia.

Oleh Drs H Ismail Djalili
Wartawan Senior dan Pendiri Stisipol Candradimuka

Drs H Ismail Djalili
Sripo/Dok



















Sumber: http://palembang.tribunnews.com/20/01/2010/sekolah-jurnalistik-dan-kecerdasan-masyarakat

Presiden Saksikan Penandatanganan MoU Sekolah Jurnalisme Indonesia


Selasa, 09 Pebruari 2010, 22:17 WIB

PALEMBANG--Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyaksikan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pembentukan sekolah jurnalistik, Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI), antara Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat dengan Kementerian Pendidikan Nasional, UNESCO dan Pemerintah Daerah.

Acara penandatanganan itu dilakukan antara Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Margiono dengan Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh, Gubernur Sumatra Selatan Alex Noerdin dan Direktur UNESCO dalam peringatan puncak ke- 64 Hari Pers Nasional (HPN) di Palembang, Selasa pagi (9/2).

Pada Januari lalu, Ketua PWI Pusat Margiono seusai pertemuan dengan Kepala Negara di Kantor Kepresidenan mengatakan bahwa PWI membentuk sekolah jurnalistik Indonesia di enam kota yaitu Jakarta, Semarang, Ujung Pandang, Samarinda, Palembang dan Riau.

Di masa mendatang, diharapkan setiap provinsi akan memiliki sekolah jurnalistik sehingga mendorong perkembangan pers Indonesia lebih baik.

Selain penandatanganan MoU SJI, menurut keterangan anggota tim penilai pemberian penghargaan Priyambodo RH, dalam peringatan puncak HPN itu juga dilakukan penyerahan sejumlah penghargaan jurnalistik antara lain penghargaan "Number One Press Card" (Kartu Press Nomor Satu), Adinegoro, dan Anugeran Spirit Jurnalisme dan Pena Emas.

Penghargaan Kartu Pers Nomer Satu merupakan bentuk pengakuan kepada orang-orang pers yang telah menunjukkan kinerja professional, berintegritas tinggi, berdidikasi, dan dedikasi serta pengorbanan kepada dunia pers, kemerdekaan pers, dalam tahun-tahun pengabdiannya.

"Pemberian itu menyimbolkan upaya masyarakat pers untuk memperlihatkan orang-orang yang patut menjadi teladan dengan prestasi yang mereka capai, dan dengan harapan agar dapat menjadi inspirasi bagi insan-insan pers khususnya kalangan muda, sekaligus meneruskan jejak emas mereka," katanya.

Sejumlah insan press yang menerima penghargaan tersebut, lanjut dia, antara lain Rosihan Anwar, Jakob Oetama, Herawaty Diah, Dahlan Iskan, Karni Ilyas, Pia Alisyahbana, Ismail Djalili, dan AJ Muaya.

Sedangkan penghargaan karya jurnalistik Adinegoro diberikan kepada M.Fitrah dari suratkabar Singgalang untuk kategori karya foto dan Malela Mhargasari dari Koran Tempo untuk kategori Tajuk. "Kemudian penghargaan Anugerah Spirit Jurnalisme diberikan kepada Rosihan Anwar," katanya.

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/10/02/09/103541-presiden-saksikan-penandatanganan-mou-sekolah-jurnalisme-indonesia

Presiden Isi Kuliah Perdana Sekolah Jurnalisme Indonesia



Selasa, 9 Februari 2010 17:23 WIB



Palembang (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan materi kuliah perdana kepada mahasiswa Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) saat menghadiri puncak Hari Pers Nasional (HPN) di Palembang, Selasa.

Materi kuliah perdana bertajuk "Mengapa Indonesia Harus Berhasil?" itu disampaikan Presiden dihadapan para mahasiswa baru yang berbaur dengan peserta perayaan Hari Pers Nasional di sebuah hotel di Palembang.

Dalam kuliahnya, Presiden menegaskan bahwa Bangsa Indonesia harus mampu mengatasi berbagai macam hal di masa mendatang karena terbukti mampu mengatasi sejumlah krisis yang terjadi dalam satu dasawarsa terakhir.

"Kita telah lulus dalam mengatasi ujian di waktu lalu, oleh karena itu kita harus mampu menghadapi ujian di masa depan menuju Indonesia yang lebih maju di abad 21," kata Presiden.

Menurut dia, dalam 10 tahun terakhir Indonesia lulus menghadapi dua krisis yaitu krisis keuangan 1998 yang berujung pada reformasi kehidupan politik dan krisis global 2008 yang memicu krisis pangan, energi dan iklim.

Kepala Negara mengatakan, krisis membuat perekonomian Indonesia tiarap, dan memicu konflik serta upaya-upaya disintegrasi --bahkan ada pihak yang mengatakan Indonesia akan pecah dan hilang-- namun akhirnya Indonesia mampu mengatasi masa-masa sulit itu.

"Kita survive sebagai bangsa dan mencapai perubahan positif, terjadi kebangkitan kembali dan peningkatan peran Indonesia di dunia internasional," katanya.

Setelah mampu melewati ujian-ujian itu, kata Presiden, Indonesia harus mampu melewati ujian selanjutnya yaitu mewujudkan tiga pilar pembangunan.

Tiga pilar itu adalah meningkatkan perekonomian untuk kesejahteraan rakyat, memantapkan demokrasi dan menegakkan keadilan.

Kepala Negara mengatakan bahwa tidak mudah memprediksikan apakah akan terjadi krisis atau tidak di masa mendatang namun yang pasti ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi Indonesia di kehidupan internasional yaitu polarisasi kekuatan dunia, benturan budaya, perebutan sumber pangan, energi dan air, epidemi serta perubahan iklim.

Oleh karena itu, lanjut dia, seluruh rakyat Indonesia harus menyatukan potensinya untuk mencapai cita-cita mewujudkan pembangunan yang inklusif dan menghadapi semua tantangan itu.

"Indonesia bisa mencapai itu semua karena modal kita banyak, pengalaman kita ada dan momentum kita ada ketika kita berhasil melewati dua krisis di masa lalu," jelasnya.

Pada peringatan puncak HPN itu, Presiden juga menyaksikan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) sekolah jurnalistik, Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI), yang digagas kalangan pers, Kementerian Pendidikan Nasional, UNESCO dan Pemerintah Daerah.

Di masa mendatang, diharapkan setiap provinsi akan memiliki sekolah jurnalistik sehingga mendorong perkembangan pers Indonesia lebih baik.

Pada tahap awal, PWI akan membentuk sekolah jurnalistik Indonesia di enam kota yaitu Jakarta, Semarang, Ujung Pandang, Samarinda, Palembang dan Riau.

Sumber: http://www.antaranews.com/berita/1265711035/presiden-isi-kuliah-perdana-sekolah-jurnalisme-indonesia